03 Juni 2011

Kisah Bahagia 6

Orangtua Kurnia setuju dengan keputusan dokter ahli untuk mengamputasi kaki. Sebab, benjolan di betis kanan terus membesar, seukuran bola pingpong. Tumor otot itu mula-mula hanya benjolan seukuran kelereng yang muncul saat Kurnia berusia 7 tahun. Pada awalnya, Kurnia tak merasakan sakit. Namun, seiring dengan membesarnya ukuran benjolan hingga sebola pingpong, sulung 2 bersaudara itu merasa nyeri. Terutama bila benjolan tersentuh atau tergesek sesuatu.

Kedua orangtuanya bergegas membawa Kurnia ke sebuah rumahsakit di Jakarta Pusat. Ketika itulah dokter mendiagnosis tumor otot setelah memeriksa Kurnia. Pada 25 Desember 1997 ketika Kurnia berusia 9 tahun, dokter mengangkat sel tumor itu. ‘Jika dibiarkan tumor akan berubah menjadi kanker sehingga harus dioperasi,’ ujar dokter seperti ditirukan ibunda dari Kurnia.

Pascaoperasi makanan Kurnia sangat diperhatikan. Dokter melarang konsumsi makanan berlemak dan menganjurkan konsumsi jus. Kurnia mematuhi saran itu. Namun, 4 bulan pascaoperasi, sel kanker tumbuh kembali. Itu yang mendorong orangtua Kurnia mencari kesembuhan ke Amsterdam, Belanda. Di sanalah dokter mengamputasi kaki kanan Kurnia.
Usai operasi Kurnia mengenakan kaki palsu untuk menopang tubuh. Setahun-dua tahun memang tak bermasalah. Namun, 5 tahun setelah amputasi, ya ampun, tumor otot itu datang lagi. Lokasi munculnya tumor itu hanya beberapa sentimeter dari bekas amputasi. Berarti itu untuk ke-3 kalinya tumor bercokol di kaki kanan Kurnia setelah 2 kali dioperasi. Itulah sebabnya orangtua Kurnia tak mengunjungi dokter ahli atau rumahsakit, tetapi ke herbalis di Bandung, Jawa Barat.

Pengobat di Kota Kembang itu meresepkan kapsul ekstrak keladi tikus. Kurnia disiplin mengkonsumsi 3 kapsul 2 kali sehari. Melihat perkembangan sel tumor yang kian hari makin mengecil, orangtua Kurnia takjub. Tiga bulan rutin mengkonsumsi kapsul keladitikus, tumor itu akhirnya hilang. Kurnia memang belum memeriksakan ke laboratorium. Namun, hingga kini 5 tahun pascapengobatan herbal, benjolan dan nyeri tak pernah muncul. Kurnia (20 tahun) kini bugar dan tengah belajar di Australia. Di sana ia tetap mengkonsumsi kapsul keladitikus untuk menjaga kesehatan.

Kurnia bukan satu-satunya pasien yang merasakan khasiat keladitikus. Nurhasanah mula-mula mendapati benjolan seukuran telur puyuh di bahu kiri. Ukuran benjolan itu makin hari kian membesar sehingga merisaukannya.

Siswa kelas XI SMA Pancabakti, Pontianak, Kalimantan Barat, itu bergegas ke dokter. Usai menjalani pemeriksaan intensif, dokter mendiagnosis Nurhasanah positif tumor getah bening. Solusinya satu: operasi.

Pada pertengahan 2008, ia mulai mengkonsumsi 2 kapsul keladitikus 3 kali sehari. ‘Pertama minum, saya kencing berkali-kali. Sakit juga semakin saya rasakan,’ kata Nurhasanah. Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Jakarta Utara, mengatakan itu indikasi obat tengah bekerja. Persis dua bulan, benjolan itu hilang sama sekali. Bersamaan dengan itu nyeri juga menghilang.

Menurut Lina Mardiana, herbalis di Pathuk, Yogyakarta, keladitikus juga digunakan untuk mengatasi beragam penyakit lain seperti diabetes mellitus dan hipertensi. Memang belum ada riset yang menguji keladitikus pada 2 penyakit itu. Lina mewarisi resep itu dari ibundanya yang berpraktek pada 1970.

Riset Membuktikan

Bagaimana mekanisme keladitikus mengatasi sel kanker? ‘Keladitikus mampu memblokir perkembangan sel-sel kanker dan tumor,’ kata Wahyu Suprapto, herbalis di Kota Batu, Jawa Timur, dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang meresepkan keladitikus. Menurut Lina Mardiana keladitikus menghambat pertumbuhan sel kanker sekaligus meningkatkan stamina pasien.

Dr Dyah Iswantini, periset di Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, membuktikan keladitikus sebagai antikanker. Dyah meneliti daya hambat ekstrak air dan etanol keladitikus terhadap aktivitas tirosin kinase. Enzim tirosin kinase mempengaruhi perkembangan sel-sel kanker di tubuh manusia.

Daya hambat ekstrak etanol dan air panas berkonsentrasi 700 ppm melebihi daya hambat genistein-senyawa antikanker. Sedangkan ekstrak keladitikus dengan air demineralisasi menghambat 76,10% enzim tirosin; daya hambat genistein Cuma 12,89%. ‘Adanya daya hambat itu menunjukkan keladitikus berpotensi sebagai antikanker,’ kata Dyah.

Riset itu sejalan dengan penelitian Peni Indrayudha dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ia membuktikan ekstrak natriumklorida daun keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins (RIPs). Peni menginkubasikan DNA plasmid (pUC18) dengan sejumlah protein dari ekstrak daun Typhonium flagelliforme pada suhu kamar selama 1 jam.

Ekstrak daun keladitikus terbukti memotong rantai DNA sel kanker sehingga berbentuk menjadi nick circular alias lingkaran semu sebagaimana tampak di bawah sinar ultraviolet. RIPs merupakan protein dengan aktivitas mampu memotong rantai DNA atau RNA sel. Dampaknya pembentukan protein sel pun terhambat sehingga sel kanker gagal berkembang.
Pada pengobatan, RIPs menonaktifkan perkembangan sel kanker dengan cara merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya. Selain itu RIPs juga memblokir pertumbuhan sel kanker. Ekstrak keladitikus yang mengandung RIPs mampu memotong rantai DNA sel kanker.
Sel bunuh diri
Riset lain dilakukan oleh Chee Yan Choo dari Sekolah Farmasi Universitas Sains Malaysia. Chee menguji ekstrak umbi dan daun keladitikus terhadap aktivitas sitotoksik pada sel leukaemia P388. Hasilnya IC50 ekstrak kloroform umbi mencapai 6,0 ?g/ml; ekstrak heksan 15,0 ?g/ml. Kloroform dan heksan adalah pelarut yang digunakan untuk memperoleh senyawa aktif dalam sediaan herbal. Sedangkan IC50 ekstrak kloroform daun 8,0 ?g/ml; IC50 ekstrak heksan daun 65,0 ?g/ml.

IC50 (IC=inhibition consentration) adalah konsentrasi yang mampu menghambat 50% sel kanker. Semakin kecil angka IC50 kian bagus karena berarti dosis yang digunakan kian kecil. Pada riset itu, untuk menghambat 50% sel kanker, cuma diperlukan 6,0 ?g/ml ekstrak kloroform umbi keladitikus.

‘Keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins (RIPs). RIPs merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya,’ kata Peni Indrayudha.

Pembuktian lainnya dilakukan oleh Choo Sheen Lai dari Pusat Penelitian Obat Universitas Sains Malaysia. Ia menemukan senyawa antikanker dalam keladitikus bernama fitol. Mekanisme fitol melawan sel kanker dengan cara apoptosis. Sel kanker terlampau ’sakti’ sehingga tak pernah mati. Nah, fitol memberikan pisau tajam kepada sel kanker. Yang terjadi kemudian, sel kanker bunuh diri. Ketika itulah pasien sembuh.
Kasus Patoppoi
Bukti dari laboratorium menyebabkan kian mencorongnya pamor keladitikus dalam setahun terakhir. ‘Saya melihat masyarakat frustasi atas pengobatan kimia. Obat kimia menjanjikan kesembuhan luar biasa, tetapi menimbulkan efek samping pada jangka panjang. Deposit obat kimia yang tak dieliminasi tubuh mempengaruhi kualitas darah dan kesehatan seseorang,’ kata Ali Mashuda SSi Apt, apoteker lulusan Universitas Gadjah Mada.

Dampaknya muncul berbagai penyakit. Setelah obat-obatan kimiawi tak kunjung menyembuhkan, pasien berharap kesembuhan dengan konsumsi herbal seperti keladitikus. Keladitikus pertama kali mencuat setelah Sri Hatmini Patoppoi sembuh dari kanker payudara stadium III pada 2000. Semula Patoppoi Pasau-suami Sri Hatmini-berupaya mencari pengobatan alternatif. (Kisah sembuh Sri Hatmini pernah dipublikasikan Trubus edisi September 2000).

Patoppoi kemudian mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh lin qi di Malaysia untuk mengobati kanker. Saat itu ia langsung ke Malaysia untuk membeli teh. Di sebuah toko obat di sana, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. Setelah membaca sekilas, ia langsung membeli buku itu dan batal membeli teh lin qi. Di bab 7 halaman 86 buku itu Patoppoi membaca khasiat Typhonium flagelliforme sebagai anti kanker.

Di Malaysia Keladi Tikus Populer

Di Malaysia keladitikus populer setelah Chris KH Teo membantu mengobati Benedict Yeoh, pengidap kanker lever yang akhirnya sembuh. Berita kesembuhan itu cepat menyebar sehingga banyak yang datang ke rumahnya di Penang, Malaysia. Ketika tiba di Jakarta, Patoppoi memberikan air rebusan umbi keladitikus kepada istrinya yang akhirnya lolos dari maut setelah rutin mengkonsumsi tanaman obat itu. Saat itu keladitikus menjadi bahan pembicaraan.
Trubus kembali menemui Sri Hatmini pada 16 April 2009. Ia tampak bugar pada usianya yang akan genap 70 tahun pada bulan ini. Setelah sembuh kanker payudara, perempuan kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 25 Juni 1939 itu membantu penyembuhan pasien beragam kanker. Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pasien kanker dari berbagai kota seperti Medan, Pekanbaru, dan Manado, mengalir ke rumahnya di Kayuputih, Jakarta Timur.

Pada ‘jam praktek’ pukul 08.00-12.00 ia menerima 20-30 pasien per hari. Jumlah itu meningkat pesat ketimbang pasien yang datang pada tahun pertama setelah ia sembuh. Saat itu cuma beberapa pasien yang berkunjung. Sri Hatmini memberikan ekstrak umbi keladitikus kepada para pasien. Dalam 2 hari, 50 botol masing-masing berisi 50 kapsul diminta pasien.

Penelusuran Trubus, setahun terakhir banyak dokter dan herbalis meresepkan keladitikus kepada para pasien. Sekadar menyebut beberapa contoh adalah dr Henry Naland SpBOnk di Jakarta, dr Eliya (Banten), dr Ivan Hardi (Surabaya), dan Agus Salim (Malang). Dokter-dokter di Klinik Karyasari-tersebar di 4 tempat di Jakarta-juga meresepkan keladitikus.

Untuk mengkonsumsi herbal itu, pasien melumat seluruh bagian tanaman keladitikus segar. Setelah menambahkan 2 sendok air matang, memeras, lalu meminum hasil perasan itu. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari. Cara lain dengan menelan 3 kapsul 3 kali sehari.

Dosis anjuran untuk terapi 3 kali sehari, sejam sebelum makan. Bagi yang memiliki masalah lambung, sebaiknya mengkonsumsi jus keladitikus setelah makan. Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, guru besar Farmasi Universitas Indonesia, dosis 3 kapsul 3 kali sehari sangat aman dan tak berefek samping bagi kesehatan. Beberapa herbalis dan dokter yang mersepkan keladitikus selama 5 tahun, belum menemukan efek samping keladitikus.

Secara empiris dan ditunjang bukti ilmiah, keladitikus berkhasiat obat. Namun, mengkonsumsi keladitikus tak semudah bayangan banyak orang. Pertama, banyak orang belum mengetahui secara pasti tanaman keladitikus. Seorang eksekutif di Jakarta mengira tanaman setinggi semeter sebagai keladitikus. Ia mengirimkan surat elektronik disertai foto tanaman talas-talasan yang disangkanya keladitikus. Bila salah mengenali tanaman, pasien mungkin tak memperoleh khasiat keladi tikus.

Selain itu mengolah tanaman itu juga harus tepat. Salah olah menyebabkan gatal tenggorokan. Alih-alih sembuh, pasien malah mendapat ‘penyakit’ baru. Pemakaian keladitikus secara tunggal, perlu riset lebih lanjut. Menurut Dr Chris KH Teo, ahli keladitikus dari Malaysia, keladitikus bukan peluru ajaib yang menyembuhkan aneka penyakit. Itu senada dengan pendapat dr Paulus Wahyudi Halim.

Dokter alumnus Degli Studi Padova, Italia, itu mengatakan pengobatan kanker melibatkan banyak faktor. ‘Tak bisa diobati dengan satu obat saja. Sebuah obat membutuhkan obat lain untuk melengkapi khasiat. Sebab tak ada obat yang multifungsi dan diterima tubuh dengan baik,’ kata Paulus.

Terlepas dari perbedaan itu, permintaan keladitikus sangat besar. Banyak pasien mengharap kesembuhan dengan konsumsi keladitikus. Dampaknya permintaan herba segar dan olahan keladitikus pun meningkat. Ali Mashuda, yang juga produsen herbal di Purwakarta, Jawa Barat, mengatakan penjualan keladitikus per bulan mencapai 600 botol masing-masing terdiri atas 50 kapsul. Jumlah itu meningkat 100% ketimbang tahun lalu.

Boni Patoppoi, produsen keladitikus di Sidoarjo, Jawa Timur, juga mengalami peningkatan permintaan. Rata-rata ia memproduksi 100 botol masing-masing 50 kapsul sepekan. Harga sebuah botol Rp75.000. Volume produksi itu meningkat 100% ketimbang 6 tahun lampau saat Boni mulai mengolah keladitikus. Keladitikus yang kini banyak diminta itu hanya salah satu pilihan untuk mencapai kesembuhan atau menjaga kesehatan. Itu pun bukan satu-satunya faktor penentu, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kesembuhan seseorang. (Sardi Duryatmo/Peliput: Ari Chaidir, Destika Cahyana, Faiz Yajri, & Vina Fitriani).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan pesan atau komentar. Gunakan kalimat yang sopan ya agar yang baca tidak "terganggu" :)